Another Source

Join The Community

Premium WordPress Themes

Minggu, 16 Januari 2011

RENUNGAN UNTUK PARA CALON PENDIDIK

Para mahasiswa yang berbahagia,..
Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan ajang pelampiasan ilmu kepada siswa-siswi di sekolah. Sering kali para mahasiswa kebingungan dalam mengajar, baik karena tidak adanya modal dasar dalam mengajar (nervous) atau tidak mengatuhui cara menyalurkan ilmu kepada siswa. Sehingga perlu kiranya ada bekal bagi para mahasiswa PPL, diantaranya:
1. Memohon pertolongan kepada Alloh
Para mahasiswa yang berbahagia,…
Di suatu sekolah di Bogor ada guru yang memiliki murid yang sangat sulit sekali dididik dan di ajar.... anak ini terlihat agak lambat menerima pelajaran. Beberapa kali cara yang kira-kira tepat untuk membantu anak ini. Namun sepertinya belum membuahkan hasil yang membahagiakan.
Berbagai cara telah dicoba ternyata belum berhasil juga. Setelah lebih dari 1 tahun berselang, Ibu guru tersebut mengatakan bahwa ia berhasil membuat kemajuan yang berarti bagi muridnya itu. Metedo apa yang telah ditemukan oleh si Ibu Guru tadi sehingga ia berhasil membuat muridnya menjadi lebih baik dan berprestasi lebih bagus?
Ternyata..
Suatu malam , Ibu guru itu sedang beribadah dan ia teringat murid itu; kemudian seketika itu dia coba membayangkan wajah muridnya baik-baik....lalu perlahan-lahan dia mengadukan hal ini kepada Alloh -subhanahu wa ta’ala-. Dia berkata, “Ya Alloh....kami sudah berupaya keras untuk membuat anak ini menjadi lebih baik, kami sudah menggunakan berbagai macam cara untuk membantunya, Tapi toh kami belum berhasil juga....; Kami sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa, Ya Alloh tolonglah kami, kami hanya ingin anak ini menjadi lebih baik.....”, lalu Dia bersujud sambil menitikkan air mata berharap supaya permohonannya dikabulkan......

Lalu ibu guru itu melanjutkan, sungguh diluar dugaan katanya; keesokan harinya mulai terjadi perubahan dan peningkatan yang sangat signifikan terhadap kemampuan belajar si anak.
***
Para mahasiswa yang berbahagia,…
Begitu banyak misteri dalam diri anak yang masih belum berhasil kita ketahui dan begitu banyak misteri dalam diri murid kita yang belum berhasil dikupas oleh pengetahuan. Namun ternyata tidaklah demikian bagi Alloh -subhanahu wa ta’ala-; segala yang tidak mungkin bagi kita selalu mungkin bagi Alloh -subhanahu wa ta’ala-.
Ingatlah, manusia adalah makhluk yang lemah, tidak ada upaya dan usaha kecuali dengan pertolongan Alloh. Apabila kita hanya bersandar pada diri sendiri, niscaya akan hancur. Dari kisah di atas betapa guru berusaha semaksimal mungkin, akan tetapi tanpa memohon kepada Aloh maka hasilnya 0. Mari kita ingan firman Alloh, yang artinya: “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah:5).
2. Niat yang Ikhlas
Para mahasiswa yang berbahagia,…
“Kadang perbuatan yang kecil menjadi besar pahalanya dan kadang perbuatan yang besar menjadi kecil pahalanya.”
Apa yang membedakan dari 2 statement di atas, persolannya adalah “niat” dalam perbuatan itu.
Perbuatan yang kecil menjadi besar pahalanya karena niatnya yang luar biasa. Betul-betul ia memfokuskan pengajarannya hanya untuk mendapatkan ridho Alloh. Akan tetapi perbuatan yang besar menjadi kecil pahalanya disebabkan kecilnya niat, mereka mengajar hanya karena melaksanankan tugas semata. Nah, mari kita mencoba untuk semata-mata mengikhlaskan niat hanya kepada Alloh dalam mengajar, tidak riya’, tidak untuk terkenal, dan tidak pula untuk hanya mendapatkan benda di dunia.

3. Kecerdasan
Para mahasiswa yang berbahagia,..
Saya teringat teman saya yang PPL pada tahun 2010 di suatu sekolah. Setiap ia masuk kelas dan mengajar, maka siswanya sering kali sulit di atur dan sulit diajar. Teman saya itu, dengan keringat yang sudah membanjiri wajahnya pun, tak meluluhkan hati siswanya. Malahan semakin hari semakin tidak menghargai gurunya.
Suatu saat teman saya mengajar, tiba-tiba hingar-bingar suara murid pun menggelegar. Maka teman saya mengangkat tangannya dan memukul meja, kemudia dia marah seraya berkata begini, “Kalian kira saya tidak bisa marah?”
Wow,…
Sungguh di luar dugaan, teman saya yang tadinya saya kira penyabar, akhirnya kesabarannya dikikis oleh amarah yang keluar.
Para mahasiswa yang berbahagia,…
Setelah ditelusur, ternyata siswa-siswi itu menyatakan bahwa gurnya “tidak cerdas, tidak tahu mengajar” sehingga muridnya pun juga remeh dengan kedatangan guru PPL itu.
Oleh karena itu, satu titik persoalan dalam kasus ini adalah kurangnya kecerdasan atau penguasaan materi mahasiswa PPL. Kecerdasan merupakan perangai bagi mahasiswa yang datang dari Alloh. Bagi orang yang sudah memiliki kecerdasan tinggal mengokohkannya dan menambah kecerdasan itu, namun yang menjadi problem adalah apabila belum punya maka hendaknya ia melatih jiwanya dalam rangka menggapai kecerdasan itu. Salah satunya ialah dengan banyak belajar.

4. Semangat dalam Mengajar
Para mahasiswa yang berbahagia,..
Tahukah Anda siapa Drs. Abdurrahman Karim?

5. Tips dalam Mengajar
a. Mengajar dalam setiap kesempatan.
Para mahasiswa yang berbahagia,..
Kerap kali kita terkungkung batasan waktu dalam mengajar. Mengajar hanya terpatok dalam kelas. Padahal semestinya pengajaran itu global, kapan saja dan dimana saja. Misalkan siswa lagi istirahat sembari duduk-duduk, maka hampiri mereka dan amanahkan melihat langit, “Coba kalian lihat awan! Kenapa warnanya biru? Bukan hitam seperti rambut kalian?”
Nah, hal semacam ini tentu lebih bermakna dan berkesan karena siswa langsung terlibat, apalagi guru yang menggunakan metode “bertanya.”
b. Memberikan kabar gembira bagi para siswa.
“Pasti kalian tidak mandi datang ke sekolah!”
“Tumben kamu datang cepat ke sekolah!”
Para mahasiswa yang berbahagia,..
Salah satu hal yang sangat positif dikembangkan adalah dengan tidak adanya ucapan negatif yang keluar dari lisan guru. Seperti kalimat di atas. Kalimat di atas hanya mengundang perasaan benci, maran, dan ketidaksenangan dari para siswa. Coba bayangkan jika hal itu berbalik kepada kita. Ambil contoh, “Woy Fulan, sudah ke berapa kalinya kamu tidak mandi ke kampus ini!”
Gimana perasaan Anda?
Nah, tentu Anda merasa risih. Begitu pula perasaan siswa kita. Karena itulah, mari kita sambut siswa dengan kabar gembira. Seperti “Selamat datang siswa-siswi ku! Kamu semua yang terbaik bagi kami!”
Wow, the positive voice.
c. Mendekat kepada siswa yang diajak bicara.
Komunikasi merupakan hal penting untuk diterapkan. Kadang kita lalai akan perkara ini, juga kadang kita sepelekan. Ingat, 2 orang yang saling bertengkar bisa jadi dikarenakan komunikasi yang tidak efektif, begitupun sebaliknya. Oleh karena itu, perlu sekiranya kita menelusuri teknik komunikasi yang baik.
Dalam ilmu komunikasi, hendaknya antara pembicara dan pendengar saling mendekat. Kelebihannya antara lain, informasi lebih mudah ditangkap. Karena itulah, rata-rata siswa yang agak lambat menerima pelajaran disebabkan oleh tempat duduk mereka yang jauh dari guru.
d. Menghadap ke arah pelajar dan mereka (pelajar) menghadap ke arah guru.
Para mahasiswa yang budiman,..
Sesungguhnya di antara faktor pendorong timbulnya minat dalam belajar adalah sikap dalam menerima pelajaran. Sikap yang mesti dibentuk adalah wajah pelajar menghadap ke arah wajah guru dan guru menghadap ke siswa pula. Sunguh, hal semaca ini kerap kali kita sepelekan, padalah ini memberikan dampak baik bagi keseriusan belajar, melahirkan rasa siaga untuk mendengar informasi dari guru. Cobalah kita bayangkang, bagaimana ketika siswa bercerita di belakan (tidak menghadap ke guru), apakah materi pelajaran akan diterima? Atau menimbulkan masalah baru antara guru dan siswa?
e. Mengharpakan siswa utnuk diam sebelum membuka pelajaran.
“Diam itu hikmah dan sedikit orang yang melakukannya.”
Para mahasiswa yang cerdas,..
Diam adalah prinsip dalam proses pengajaran, tapi sering kali kita tidak mengetahui keutamaan sikap ini. Bagaimana mungkin kita hendak mengajar, sementara pendengar juga bawa materi di bawah?
“Forum di atas forum!” ungkap teman saya di kala masih semester V.

f. Memanggil nama siswa dengan sapaan terbaik.
Sungguh luar biasa, ketika guru memanggil muridnya dengan sapaan yang baik, “Wahai murid-muridku yang cerdas!”, “Apa kabar para pelopor!” dan lain-lain dari sapaan yang indah.

g. Menyentuh anggota badan murid.
h. Jelas dan tenang dalam bicara.
i. Mengulangi ucapan.
j. Menggunakan isyarat.
k. Menggunakan garis dan gambar.
l. Membuat perumpamaan.
m. Mengajari dengan perbuatan.
n. Mengajar dengan metode perbandingan.
o. Penyampaian secara umum lalu merinci setelahnya.
p. Metode bertanya.
q. Membuat soal pada murid.
r. Toleran dalam menanggapi pertanyaan.
s. Memuji pertanyaan yang bagus.
t. Menjawab dengan metode penyerupaan dan pengkiasan.
u. Menjawab lebih dari yang ditanyakan.
v. Meminta siswa untuk mengulangi pelajaran yang lalu.
w. Berlapang dada apabila diingatkan.
x. Memberi kesempatan siswa untuk berargumentasi.
y. Tawadhu
z. Lemah lembut dalam mengajar.
aa. Memperlihatkan keadaan para murid.
bb. Merasa kehilangan murid.
cc. Guru memberikan kemudahan.
dd. Mengajar hal-hal yang mudah.


0 komentar:

Posting Komentar