Another Source

Join The Community

Premium WordPress Themes

Kamis, 16 Desember 2010

AL-GHAZWL AL FIKRI (Perang pemikiran)

Umat Islam secara umum tidakvmenyadari akan bahaya perang pemikiran. Fenomena ini dibuktikan dengan banyaknya muslim yang secaraa sadar ataupun tidak mengikuti pemikiran, tingkah laku, dan gaya hidup orang kafir (Barat). Ketidaksadaran muslim terhadap bahaya ini menjadikannya kehilangan identitas dan kepercayaan diri sebagai umat muslim. Bahkan kebanggaan dengan tingkah laku jahiliyah ini telah dijadikan sebagai budaya.

Topik ini disampaikan agar kita memahami bahaya perang pemikiran yang dilakukan dengan berbagai cara dan sarana yang ada disekitar kita. Dengan memaparkan contoh, bukti, dan realitas tentang al-ghazwl al-fikri, diharapkan muncul kesadaran pada umat Islam sehingga umat mempunyai benteng dan kesadaran untuk memperbaiki dirinya.

Pihak kafir yang mengalami kekalahan yang beruntun dari pihak islam selama perang salib mencari alternatif untuk menghancurkan umat Islam. Mereka tidak pernah rela dan tidak pernah berhenti menyerang umat islam hingga umat Islam mengikuti millah mereka. Strategi yang dipilih untuk menghancurkan umat islam adalah al-ghazwl al-fikri. Al-ghazwl al-fikri adalah serangan pemikiran budaya, mental dan konsep yang dilakukan secara terus menerusdengan sistematik, teratur, serta terancang denagn baik. Hal itu dilakukan sehingga muncul perubahan kepribadian, gaya hidup, dan tingkah laku pada umat Islam.

Tujuan al-ghazwl al-fikri adalah merusak akhlak, menghancurkan pemikiran, melarutkan kepribadian, dan menjadikan muslim keluar dari agamanya. Usaha ini mulai dil;aksanakan sebelum jatuhnya khilafah islamiyah, dimulai dengan memutuskan hubungan diantara negeri islam di bawah khalifah islamiyah sehingga memunculkan paham nasionalisme, kekauman, dan kebangsaan. Pemisaan agama dari negara, orientalisme, kristenisasi dan gerakan pembebasan perempuan juga merupakan aktifitas al-ghazwl al-fikri yang sudah menunjukkan hasilnya pada sebagian umat islam yang sekarang telah berubah menjadi jahiliyah.

Kehidupan jahiliyah merupakan kehidupan yang jauh dari berkah allah, serta gelap tanpa panduan dan petunjuk dariNya. Kehiduoan ini akan merugikan kita di dunia dan di akhirat. Kejahiliyahan disebabkan karena prasangka buruk pada Allah, serta sombong. Hasil kejahiliyahan diantaranya adalah persangkaan jahiliyah, hukum jahiliyah, pengabdian jahiliyah, kebanggaan jahiliyah, dan kehidupan jahiliyah. Secara umum, jahiliyah merupakan sistem, konsep, dan amal kehidupan Individu yang berada dalam kegelapan cahaya Islam.

Mengembalikan kepercayaan umat Islam kepada agamanya sulit dilakukan kecuali dengan dakwah dan jihad yang dipelopori oleh harakah dan jama’ah Islamiyah. Kesulitan ini disebabkan karena tingkah laku dan gaya hidup jahiliyah sudah menyatu dengan diri muslim, misalnya perempuan yang berhias dengan make-up, pakaian yang mengikuti tren mode, juga kebiasaan tertentu seperti musik dan serta hiburan yang berlebihan, padahal aktifitas ini seharusnya dihindari dan dijauhkan dari kehidupan muslim. Kesulitan lainnya adalah karena umat islam telah mengidap penyakit cinta dunia dan takut mati.


YAHUDI SEBAGAI HIZBUS SYAITHON MENGUASAI DUNIA

1. Obsesi Yahudi Menguasai Dunia
Yahudi mempunyai cita-cita untuk menguasai dunia dengan cara menaklukkan sistem yang dimiliki oleh bangsa dan negara lain. Apapun cara yang dilakukan yahudi derngan gerakan zionisya selalu bertujuan untuk menguasai dunia. sistem Politik, Ekonomi, Hukum dan Sosial yang berkembang di dunia manapun saat ini telah dikuasai oleh orang - orang Yahudi. Semangat menguasai dunia ini didasari oleh keyakinan mereka bahwa tuhan telah mengangkat mereka yahudi sebagai pemimpin bangsa-bangsa serta pewaris bumi dan seisinya yang sah. keyakinan demikian juga dimiliki oleh ummat islam dengan sebutan khalifah yaitu orang yang beriman dan bertakwa diberikan amanah untuk membangun dan memelihara bumi dan seisinya. Keyakinan umat islam demikian memotivasi yahudi memerangi Islam karena Islam mempunyai potensi untuk mengalahkan Yahudi. Motivasi demikian juga yang digunakan oleh Nazi menghabiskan Yahudi karena bangsa aria (Nazi) sebagai bangsa mulia yang layak sebagai pemimpin dunia.
Bangsa Yahudi mempunyai obsesi menguasai Dunia, mereka berjuang tanpa henti untuk merealisasikan janji-janji tuhan yang dipercayainya. Salah satu kepercayaan yang menjadikan dunia selalu panas adalah tanah Palestina sebagai bumi yang dijanjikan dibawah imperium seorang raja dari keturunan daud dan menjadikan palestina sebagai pusat kerajaan intrernasional yang abadi. Dari tanah ini, mereka mengendalikan dunia. Yahudi berusaha keras untuk memerangi umat Islam sehingga umat islam mengikuti mereka seperti disebutkan oleh allah dalam al qur’an surah al baqarah ayat 120: “ orang – orang yahudi dan nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah petunjuk allah itulah petunjuk yang benar’. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemaun mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka allah tidak lagi menjadi penolong dan pelindung bagimu”.
Untuk mencapai obsesinya maka segala cara telah dilakukan, yahudi banyak dikenal mendalangi berbagai gerakan rahasia. Mereka juga berada di balik banyak mala petaka sepanjang lintasan sejarah. Tragedi 11 september, juga diindikasikan sebagai konspirasi yahudi untuk menyudutkan Islam, sehingga ada pembenaran bagi Israel untuk menyerang rakyat palestina dengan dalih teroris. 4000 pegawai yahudi yang bekerja di gedung WTC tidak bekerja pada saat terjadinya tragedi, bahkan sebelumnya pihak Yahudi telah membeli gedung tersebut untuk mendapatkan keuntungan dari asuransi yang diperolehnya, canggihnya cara dan teknologi yang digunakan untuk menghantaam gedung WTC, tidak mustahil dilakukan oleh Yahudi. Islam tidak mempunyai sejarah menyerang masyarakat sipil yang tidak bersalah bahkan muslim sebagai khalifah perlu memelihara dan membangun alam ini agar tidak terjadi kerusakan di bumi.
Sejarah Yahudi penuh dengan kejahatan seperti perbudakan panjang, penindasan keji, kesombongan, kebangsaan ekstrim, fanatisme buta terhadap keturunan, rakus terhadap materi, sistem ekonomi ribawi dan tingkah laku jahat lainnya seperti penjilat, licik, kejam, munafik, niat busuk, keras kepala, merampas Benyamin Franklin mantan presiden Amerika Serikat menyatakan bahwa dimanapun bangsa Yahudi tinggal, niscaya terjadi kehancuran moral dan mental, serta aktifitas perdagangan yang berjalan dengan jalan tercela.
Tentang bangsa yahudi, nabi Isa as berkata “wahai anak cucu ular (yahudi) bagaimana kalian dapat berbicara tentang kebaikan, sedangkan kalian adalah sejahat-jahatnya manusia”. Begitu juga nabi musa as berkata “ aku tahu kalian suka membangkang dan hati kalian keras bagaikan batu”. Sesungguhnya setelah kematianku kalian akan membuat kerusakan dan menyimpan dari jalan yang aku wasiatkan. Kalian akan ditimpa malapetaka diakhir zaman nanti. Al Qur’an surat Al A’raf: 167 menyatakan “ Dan ingatlah ketika rabbmu memberithukan bahwa sesungguhnya dia akan mengirim kepada mereka (orang-orang yahudi) sampai har kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang seburuk-buruknya.sesungguhnya dia maha pengampun lagi maha penyayang”.
Tingkah laku yang digambarkan diatas adalah tingkah laku syaithan. Mereka berencana secara sistematis melakukan kejahatan dalam kordinasi suatu komunitas, bangsa, dan badan. Yahudi adalah hizbus syithan yang ingin menguasai dunia. Beberapa cara yang dilakukannya seperti melalui militer, Politik, Ekonomi dan Sosial Budaya. Serangan militer akan memakan korban fisik dan kecaman dunia seperti yang telah dilakukan oleh Isreal terhadap Palestina. Juga tindakan Amerika Serikat yang menyerang negara-negara islam juga hasil dari lobi-lobi Yahudi yang kuat di Amerika Serikat. Politik luar negeri atau dunia juga dikuasai oleh Yahudi dengan menggunakan tangan amerika serikat atau badan-badan dunia lainnya seperti PBB. Bagi bangsa Yahudi semua cara dilakukannya, namun cara yang efektif untuk menaklukkan dunia dan agar mereka tunduk mengikutinya adalah dengan cara ekonomi. Sejarah juga menunjukkan bahwa Yahudi mengalahkan orang lain dengan kekuatan ekonomi yaitu dengan sistem bunga Bank dan penguasaan aset melalui praktek dagang yang tidak adil dan jujur.
2. Yahudi penguasa Amerika Serikat
Yahudi menguasai dunia dengan cara menimbulkan kekacauan, menyebarkan isu negatif dan kerusakan moral, teror pemikiran dan merusak opini menyebarkan kerusakan di masyarakat, menciptakan resesi ekonomi dan melenyapkan agama-agama.untuk menguasai dunia, yahudi berhasil menguasai Amerika Serikat dari segi ekonomi sehingga kebijakan-kebijakan Amerika dikendalikan oleh Yahudi, tidak saja kebijakan dalam negeri tapi juga kebijakan luar negeri, tidak saja dari segi ekonomi tetapi juga dalam segi politk. Kaum yahudi memilik lembaga keuangan besar dunia seperti pemegang saham The Federal Reserve (Bank sentral AS), Rothchlids Bank of London, Rothchlids Bank of Berlin, Israel Moses seif Bank of Italy, Warburg Bank of Hamburg, Lazard Brothers of Paris, Lehman Brothers of New York, Kuhn and Loeb Bank of New York, Chase Manhattan Bank of New York, dan Goldman Sachs of New York (Gary Kah, 1991)
Amerika Serikat walaupun dikenal sebagai negara maju dan super power, tetapi kenyataanya dikendalikan oleh Yahudi. Melalui penguasaan Ekonomi, para pelobi Yahudi menjadi afektif menyetir elit politik dan elit kekuasaan di Amerika Serikat.bukti dari keberhasilan lobi yahudi adalah tidak sedikitpun Amerika Serikat berani keras terhadap Israel dan nsemua kebijakan pemerintahan AS, dalam hal apapun selalu mengutamakan yahudi. Oleh karena itu, faktanya para pelaku Ekonomi AS tidak lebih dari sekedar ‘kacung’Yahudi. Mereka Kita dapat menyimpulkan bahwa Yahudilah yang sebenarnya pemilik sejati ekonomi AS. Yahudiejak 1664 sampai sekarang menjadikan New York sebagai tujuan migrasi utama. Mereka juga menguaai sebagian besar lembaga keuangan yang bermarkas di New York. Bagi kaum Yahudi, New York adalah mesin uang bagi tumbuh kembangnya gerakan Zionisme di dunia.
Yahudi menguasai dunia melalui media cetak, media elektronik. Media kaca dan media komunikasi lainnya. Pelaku utama di Pers dan penerbitan di AS adalah kaum Yahudi. Kita dapat melihat siaran CNN dan hampir semua media Barat menyudutkan Islam sebagai pelaku Teroris, padahal tidak ada alasan u ntuk mengaitkan 11 September itu dengan Islam. Kaum Yahudi memiliki The New York Times, yaitu keluaraga Suzberger sebagai seorang pemodal kuat, disamping itu, Suzberger juga menguasai 336 perusahaan surat kabar lainnya dan 12 majalah, termasuk Mc Call’s dan Family Circle. Majalah Time dipimpin oleh Steven J. Ross, juga penerbit buku ukuran raksasa, yaitu Random House, Simon & Schuter, dan Time Inc. Book. Co. Juga dimiliki oleh pemodal Yahudi.
Yahudi di Amerika Serikat juga menguasai penerbitan seperti pimpinan Simon & Schuter adalah Richard Snyder dan kaetuanya Jeremi kaplan. Western Publishing, penerbit buku anak-anak, dengan pangsa pasar buku untuk anak di dunia pemiliknya adalah Richard Bestein, begitu juga Walt Disney Company, yang merupakan konglomerat media terbesar, juga dipimpin oleh seorang Yahudi, yaitu Michael Eisner


Selasa, 14 Desember 2010

Methodologies in Foreign Language Teaching a brief historical overview


"Any given method is only as effective as its implementation."

  1. Grammar-Translation Method (1890s-1930s): Around the turn-of-the-century, language students often translated cumbersome volumes from Classical Greek or Latin into English vía this approach. It consisted mainly of exhaustive use of dictionaries, explanations of grammatical rules (in English), some sample sentences, and exercise drills to practice the new structures. Little opportunity for real second-language acquisition existed then.
  2. Cognitive Approach (1940s-1950s): This approach introduced the four principle language skills for the first time: listening, speaking, reading, and writing. Oral communicative competence became the focus. Comprehensible auditory input became important and speaking in the target language began to occur. Learning about the language was overemphasized.
  3. Audio-Lingüal Method (1950s-1960s): With the advent and popularity of audio tapes, this approach ushered in the first recordings wherein the language learner could actually hear and mimic native speakers on reel-to-reel audio tapes, often used with earphones in a language lab setting. Lessons often began with a sample dialogue to be recited and memorized. This was followed up with substitution pattern and saturation drills in which the grammatical structure previously introduced was reinforced, with emphasis given to rapid fire student response. Repetition, substitution, transformation, and translation became the order of the day. This method was strongly influenced by B.F. Skinner's behaviorist view toward learning which favored habit-forming drill techniques. Unfortunately, most students couldn’t transfer these dialogues into their own real-life experiences.
  4. The Direct Method (1970s): This method presented discussion in the target language as the major priority. Reference to English equivalents became discouraged. Grammar learning became inductive in nature without overt explanations given the pupil. Teacher/student interaction became fuller, guessing of context or content, completing fill-ins, and doing “cloze” exercises were the order of the day. Accuracy in pronunciation and oral expression became vital. Examples to be followed became the main intention.
  5. The Natural/Communicative Approach (1960s-2000s): Originally developed by Tracy Terrell and Stephen Krashen, this acquisition-focused approach sees communicative competence progressing through three stages: (a) aural comprehension, (b) early speech production, and (c) speech activities, all fostering "natural" language acquisition, much as a child would learn his/her native tongue. Following an initial "silent period", comprehension should precede production in speech, as the latter should be allowed to emerge in natural stages or progressions. Lowering of the Affective Filter is of paramount importance. Only the target language is used in class now, introducing the "total immersion" concept for the very first time, with auditory input for the student becoming paramount. Errors in speech are not corrected aloud. Now enters the era of glossy textbooks, replete with cultural vignettes, glossaries, vocabulary lists, and glazed photographs. A deliberate, conscious approach to the study of grammar is considered to have only modest value in the language learning process. Pairing off of students into small groups to practice newly acquired structures becomes the major focus. Visualization activities that often times make use of a picture file, slide presentations, word games, dialogues, contests, recreational activities, empirical utterances, and realia provide situations with problem-solving tasks which might include the use of charts, maps, graphs, and advertisements, all to be performed on the spot in class. Now the classroom becomes more student-centered with the teacher allowing for students to output the language more often on their own. Formal sequencing of grammatical concepts is kept to a minimum.