Another Source

Join The Community

Premium WordPress Themes

Minggu, 16 Januari 2011

HIPOTESIS PENELITIAN

Tidak semua penelitian kuantitatif memerlukan hipotesis penelitian. Penelitian kuantitatif yang bersifat eksploratoris dan deskriptif tidak membutuhkan hipotesis. Oleh karena itu subbab hipotesis penelitian tidak harus ada dalam skripsi, tesis, atau disertasi hasil penelitian kuantitatif.
Secara prosedural hipotesis penelitian diajukan setelah peneliti melakukan kajian pustaka, karena hipotesis penelitian adalah rangkuman dari kesimpulan-kesimpulan teoretis yang diperoleh dari kajian pustaka. Hipotesis mrupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang secara teoretis dianggap paling mungkin dan paling tinggi tingkat kebenarannya. Namun secara teknis, hipotesis penelitian dicantumkan dalam Bab I (Bab Pendahuluan) agar hubungan antara masalah yang diteliti dan kemungkinan jawabannya menjadi lebih jelas. Atas dasar inilah, maka di dalam latar belakang masalah harus sudah ada paparan tentang kajian pustaka yang relevan dalam bentuknya yang ringkas.
Rumusan hipotesis hendaknya bersifat definitif atau direksional. Artinya, dalam rumusan hipotesisi tidak hanya disebutkan adanya hubungan atau perbedaan antarvariabel, bagian akhir kajian dalam tesis dan disertasi perlu ada bagian tersendiri yang berisi penjelasan tentang pandangan atau kerangka berpikir yang digunakan peneliti berdasarkan teori-teori yang dikaji.
Pemilihan bahan pustaka yang akan dikaji didasarkan pada dua kriteria, yaitu: (1) prinsip kemutakhiran (kecuali utuk penelitian historis) dan (2) prinsip relevansi. Prinsip kemutakhiran penting karena ilmu berkembang dengan cepat. Sebuah teori yang efektif pada suatu periode mungkin sudah ditinggalkan pada periode berikutnya. Dengan prinsip kemutakhiran, penelitian dapat berargumentasi berdasar teori-teori yang pada waktu itu dipandang paling representatif. Hal seruap berlaku juga terhadap telaah laporan-laporan penelitian. Prinsip relevansi diperlukan untuk menghasilkan kajian pustaka yang erat kaitannya dengan masalah yang diteliti.

RENUNGAN UNTUK PARA CALON PENDIDIK

Para mahasiswa yang berbahagia,..
Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan ajang pelampiasan ilmu kepada siswa-siswi di sekolah. Sering kali para mahasiswa kebingungan dalam mengajar, baik karena tidak adanya modal dasar dalam mengajar (nervous) atau tidak mengatuhui cara menyalurkan ilmu kepada siswa. Sehingga perlu kiranya ada bekal bagi para mahasiswa PPL, diantaranya:
1. Memohon pertolongan kepada Alloh
Para mahasiswa yang berbahagia,…
Di suatu sekolah di Bogor ada guru yang memiliki murid yang sangat sulit sekali dididik dan di ajar.... anak ini terlihat agak lambat menerima pelajaran. Beberapa kali cara yang kira-kira tepat untuk membantu anak ini. Namun sepertinya belum membuahkan hasil yang membahagiakan.
Berbagai cara telah dicoba ternyata belum berhasil juga. Setelah lebih dari 1 tahun berselang, Ibu guru tersebut mengatakan bahwa ia berhasil membuat kemajuan yang berarti bagi muridnya itu. Metedo apa yang telah ditemukan oleh si Ibu Guru tadi sehingga ia berhasil membuat muridnya menjadi lebih baik dan berprestasi lebih bagus?
Ternyata..
Suatu malam , Ibu guru itu sedang beribadah dan ia teringat murid itu; kemudian seketika itu dia coba membayangkan wajah muridnya baik-baik....lalu perlahan-lahan dia mengadukan hal ini kepada Alloh -subhanahu wa ta’ala-. Dia berkata, “Ya Alloh....kami sudah berupaya keras untuk membuat anak ini menjadi lebih baik, kami sudah menggunakan berbagai macam cara untuk membantunya, Tapi toh kami belum berhasil juga....; Kami sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa, Ya Alloh tolonglah kami, kami hanya ingin anak ini menjadi lebih baik.....”, lalu Dia bersujud sambil menitikkan air mata berharap supaya permohonannya dikabulkan......

Lalu ibu guru itu melanjutkan, sungguh diluar dugaan katanya; keesokan harinya mulai terjadi perubahan dan peningkatan yang sangat signifikan terhadap kemampuan belajar si anak.
***
Para mahasiswa yang berbahagia,…
Begitu banyak misteri dalam diri anak yang masih belum berhasil kita ketahui dan begitu banyak misteri dalam diri murid kita yang belum berhasil dikupas oleh pengetahuan. Namun ternyata tidaklah demikian bagi Alloh -subhanahu wa ta’ala-; segala yang tidak mungkin bagi kita selalu mungkin bagi Alloh -subhanahu wa ta’ala-.
Ingatlah, manusia adalah makhluk yang lemah, tidak ada upaya dan usaha kecuali dengan pertolongan Alloh. Apabila kita hanya bersandar pada diri sendiri, niscaya akan hancur. Dari kisah di atas betapa guru berusaha semaksimal mungkin, akan tetapi tanpa memohon kepada Aloh maka hasilnya 0. Mari kita ingan firman Alloh, yang artinya: “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah:5).
2. Niat yang Ikhlas
Para mahasiswa yang berbahagia,…
“Kadang perbuatan yang kecil menjadi besar pahalanya dan kadang perbuatan yang besar menjadi kecil pahalanya.”
Apa yang membedakan dari 2 statement di atas, persolannya adalah “niat” dalam perbuatan itu.
Perbuatan yang kecil menjadi besar pahalanya karena niatnya yang luar biasa. Betul-betul ia memfokuskan pengajarannya hanya untuk mendapatkan ridho Alloh. Akan tetapi perbuatan yang besar menjadi kecil pahalanya disebabkan kecilnya niat, mereka mengajar hanya karena melaksanankan tugas semata. Nah, mari kita mencoba untuk semata-mata mengikhlaskan niat hanya kepada Alloh dalam mengajar, tidak riya’, tidak untuk terkenal, dan tidak pula untuk hanya mendapatkan benda di dunia.

3. Kecerdasan
Para mahasiswa yang berbahagia,..
Saya teringat teman saya yang PPL pada tahun 2010 di suatu sekolah. Setiap ia masuk kelas dan mengajar, maka siswanya sering kali sulit di atur dan sulit diajar. Teman saya itu, dengan keringat yang sudah membanjiri wajahnya pun, tak meluluhkan hati siswanya. Malahan semakin hari semakin tidak menghargai gurunya.
Suatu saat teman saya mengajar, tiba-tiba hingar-bingar suara murid pun menggelegar. Maka teman saya mengangkat tangannya dan memukul meja, kemudia dia marah seraya berkata begini, “Kalian kira saya tidak bisa marah?”
Wow,…
Sungguh di luar dugaan, teman saya yang tadinya saya kira penyabar, akhirnya kesabarannya dikikis oleh amarah yang keluar.
Para mahasiswa yang berbahagia,…
Setelah ditelusur, ternyata siswa-siswi itu menyatakan bahwa gurnya “tidak cerdas, tidak tahu mengajar” sehingga muridnya pun juga remeh dengan kedatangan guru PPL itu.
Oleh karena itu, satu titik persoalan dalam kasus ini adalah kurangnya kecerdasan atau penguasaan materi mahasiswa PPL. Kecerdasan merupakan perangai bagi mahasiswa yang datang dari Alloh. Bagi orang yang sudah memiliki kecerdasan tinggal mengokohkannya dan menambah kecerdasan itu, namun yang menjadi problem adalah apabila belum punya maka hendaknya ia melatih jiwanya dalam rangka menggapai kecerdasan itu. Salah satunya ialah dengan banyak belajar.

4. Semangat dalam Mengajar
Para mahasiswa yang berbahagia,..
Tahukah Anda siapa Drs. Abdurrahman Karim?

5. Tips dalam Mengajar
a. Mengajar dalam setiap kesempatan.
Para mahasiswa yang berbahagia,..
Kerap kali kita terkungkung batasan waktu dalam mengajar. Mengajar hanya terpatok dalam kelas. Padahal semestinya pengajaran itu global, kapan saja dan dimana saja. Misalkan siswa lagi istirahat sembari duduk-duduk, maka hampiri mereka dan amanahkan melihat langit, “Coba kalian lihat awan! Kenapa warnanya biru? Bukan hitam seperti rambut kalian?”
Nah, hal semacam ini tentu lebih bermakna dan berkesan karena siswa langsung terlibat, apalagi guru yang menggunakan metode “bertanya.”
b. Memberikan kabar gembira bagi para siswa.
“Pasti kalian tidak mandi datang ke sekolah!”
“Tumben kamu datang cepat ke sekolah!”
Para mahasiswa yang berbahagia,..
Salah satu hal yang sangat positif dikembangkan adalah dengan tidak adanya ucapan negatif yang keluar dari lisan guru. Seperti kalimat di atas. Kalimat di atas hanya mengundang perasaan benci, maran, dan ketidaksenangan dari para siswa. Coba bayangkan jika hal itu berbalik kepada kita. Ambil contoh, “Woy Fulan, sudah ke berapa kalinya kamu tidak mandi ke kampus ini!”
Gimana perasaan Anda?
Nah, tentu Anda merasa risih. Begitu pula perasaan siswa kita. Karena itulah, mari kita sambut siswa dengan kabar gembira. Seperti “Selamat datang siswa-siswi ku! Kamu semua yang terbaik bagi kami!”
Wow, the positive voice.
c. Mendekat kepada siswa yang diajak bicara.
Komunikasi merupakan hal penting untuk diterapkan. Kadang kita lalai akan perkara ini, juga kadang kita sepelekan. Ingat, 2 orang yang saling bertengkar bisa jadi dikarenakan komunikasi yang tidak efektif, begitupun sebaliknya. Oleh karena itu, perlu sekiranya kita menelusuri teknik komunikasi yang baik.
Dalam ilmu komunikasi, hendaknya antara pembicara dan pendengar saling mendekat. Kelebihannya antara lain, informasi lebih mudah ditangkap. Karena itulah, rata-rata siswa yang agak lambat menerima pelajaran disebabkan oleh tempat duduk mereka yang jauh dari guru.
d. Menghadap ke arah pelajar dan mereka (pelajar) menghadap ke arah guru.
Para mahasiswa yang budiman,..
Sesungguhnya di antara faktor pendorong timbulnya minat dalam belajar adalah sikap dalam menerima pelajaran. Sikap yang mesti dibentuk adalah wajah pelajar menghadap ke arah wajah guru dan guru menghadap ke siswa pula. Sunguh, hal semaca ini kerap kali kita sepelekan, padalah ini memberikan dampak baik bagi keseriusan belajar, melahirkan rasa siaga untuk mendengar informasi dari guru. Cobalah kita bayangkang, bagaimana ketika siswa bercerita di belakan (tidak menghadap ke guru), apakah materi pelajaran akan diterima? Atau menimbulkan masalah baru antara guru dan siswa?
e. Mengharpakan siswa utnuk diam sebelum membuka pelajaran.
“Diam itu hikmah dan sedikit orang yang melakukannya.”
Para mahasiswa yang cerdas,..
Diam adalah prinsip dalam proses pengajaran, tapi sering kali kita tidak mengetahui keutamaan sikap ini. Bagaimana mungkin kita hendak mengajar, sementara pendengar juga bawa materi di bawah?
“Forum di atas forum!” ungkap teman saya di kala masih semester V.

f. Memanggil nama siswa dengan sapaan terbaik.
Sungguh luar biasa, ketika guru memanggil muridnya dengan sapaan yang baik, “Wahai murid-muridku yang cerdas!”, “Apa kabar para pelopor!” dan lain-lain dari sapaan yang indah.

g. Menyentuh anggota badan murid.
h. Jelas dan tenang dalam bicara.
i. Mengulangi ucapan.
j. Menggunakan isyarat.
k. Menggunakan garis dan gambar.
l. Membuat perumpamaan.
m. Mengajari dengan perbuatan.
n. Mengajar dengan metode perbandingan.
o. Penyampaian secara umum lalu merinci setelahnya.
p. Metode bertanya.
q. Membuat soal pada murid.
r. Toleran dalam menanggapi pertanyaan.
s. Memuji pertanyaan yang bagus.
t. Menjawab dengan metode penyerupaan dan pengkiasan.
u. Menjawab lebih dari yang ditanyakan.
v. Meminta siswa untuk mengulangi pelajaran yang lalu.
w. Berlapang dada apabila diingatkan.
x. Memberi kesempatan siswa untuk berargumentasi.
y. Tawadhu
z. Lemah lembut dalam mengajar.
aa. Memperlihatkan keadaan para murid.
bb. Merasa kehilangan murid.
cc. Guru memberikan kemudahan.
dd. Mengajar hal-hal yang mudah.

Kamis, 16 Desember 2010

AL-GHAZWL AL FIKRI (Perang pemikiran)

Umat Islam secara umum tidakvmenyadari akan bahaya perang pemikiran. Fenomena ini dibuktikan dengan banyaknya muslim yang secaraa sadar ataupun tidak mengikuti pemikiran, tingkah laku, dan gaya hidup orang kafir (Barat). Ketidaksadaran muslim terhadap bahaya ini menjadikannya kehilangan identitas dan kepercayaan diri sebagai umat muslim. Bahkan kebanggaan dengan tingkah laku jahiliyah ini telah dijadikan sebagai budaya.

Topik ini disampaikan agar kita memahami bahaya perang pemikiran yang dilakukan dengan berbagai cara dan sarana yang ada disekitar kita. Dengan memaparkan contoh, bukti, dan realitas tentang al-ghazwl al-fikri, diharapkan muncul kesadaran pada umat Islam sehingga umat mempunyai benteng dan kesadaran untuk memperbaiki dirinya.

Pihak kafir yang mengalami kekalahan yang beruntun dari pihak islam selama perang salib mencari alternatif untuk menghancurkan umat Islam. Mereka tidak pernah rela dan tidak pernah berhenti menyerang umat islam hingga umat Islam mengikuti millah mereka. Strategi yang dipilih untuk menghancurkan umat islam adalah al-ghazwl al-fikri. Al-ghazwl al-fikri adalah serangan pemikiran budaya, mental dan konsep yang dilakukan secara terus menerusdengan sistematik, teratur, serta terancang denagn baik. Hal itu dilakukan sehingga muncul perubahan kepribadian, gaya hidup, dan tingkah laku pada umat Islam.

Tujuan al-ghazwl al-fikri adalah merusak akhlak, menghancurkan pemikiran, melarutkan kepribadian, dan menjadikan muslim keluar dari agamanya. Usaha ini mulai dil;aksanakan sebelum jatuhnya khilafah islamiyah, dimulai dengan memutuskan hubungan diantara negeri islam di bawah khalifah islamiyah sehingga memunculkan paham nasionalisme, kekauman, dan kebangsaan. Pemisaan agama dari negara, orientalisme, kristenisasi dan gerakan pembebasan perempuan juga merupakan aktifitas al-ghazwl al-fikri yang sudah menunjukkan hasilnya pada sebagian umat islam yang sekarang telah berubah menjadi jahiliyah.

Kehidupan jahiliyah merupakan kehidupan yang jauh dari berkah allah, serta gelap tanpa panduan dan petunjuk dariNya. Kehiduoan ini akan merugikan kita di dunia dan di akhirat. Kejahiliyahan disebabkan karena prasangka buruk pada Allah, serta sombong. Hasil kejahiliyahan diantaranya adalah persangkaan jahiliyah, hukum jahiliyah, pengabdian jahiliyah, kebanggaan jahiliyah, dan kehidupan jahiliyah. Secara umum, jahiliyah merupakan sistem, konsep, dan amal kehidupan Individu yang berada dalam kegelapan cahaya Islam.

Mengembalikan kepercayaan umat Islam kepada agamanya sulit dilakukan kecuali dengan dakwah dan jihad yang dipelopori oleh harakah dan jama’ah Islamiyah. Kesulitan ini disebabkan karena tingkah laku dan gaya hidup jahiliyah sudah menyatu dengan diri muslim, misalnya perempuan yang berhias dengan make-up, pakaian yang mengikuti tren mode, juga kebiasaan tertentu seperti musik dan serta hiburan yang berlebihan, padahal aktifitas ini seharusnya dihindari dan dijauhkan dari kehidupan muslim. Kesulitan lainnya adalah karena umat islam telah mengidap penyakit cinta dunia dan takut mati.

YAHUDI SEBAGAI HIZBUS SYAITHON MENGUASAI DUNIA

1. Obsesi Yahudi Menguasai Dunia
Yahudi mempunyai cita-cita untuk menguasai dunia dengan cara menaklukkan sistem yang dimiliki oleh bangsa dan negara lain. Apapun cara yang dilakukan yahudi derngan gerakan zionisya selalu bertujuan untuk menguasai dunia. sistem Politik, Ekonomi, Hukum dan Sosial yang berkembang di dunia manapun saat ini telah dikuasai oleh orang - orang Yahudi. Semangat menguasai dunia ini didasari oleh keyakinan mereka bahwa tuhan telah mengangkat mereka yahudi sebagai pemimpin bangsa-bangsa serta pewaris bumi dan seisinya yang sah. keyakinan demikian juga dimiliki oleh ummat islam dengan sebutan khalifah yaitu orang yang beriman dan bertakwa diberikan amanah untuk membangun dan memelihara bumi dan seisinya. Keyakinan umat islam demikian memotivasi yahudi memerangi Islam karena Islam mempunyai potensi untuk mengalahkan Yahudi. Motivasi demikian juga yang digunakan oleh Nazi menghabiskan Yahudi karena bangsa aria (Nazi) sebagai bangsa mulia yang layak sebagai pemimpin dunia.
Bangsa Yahudi mempunyai obsesi menguasai Dunia, mereka berjuang tanpa henti untuk merealisasikan janji-janji tuhan yang dipercayainya. Salah satu kepercayaan yang menjadikan dunia selalu panas adalah tanah Palestina sebagai bumi yang dijanjikan dibawah imperium seorang raja dari keturunan daud dan menjadikan palestina sebagai pusat kerajaan intrernasional yang abadi. Dari tanah ini, mereka mengendalikan dunia. Yahudi berusaha keras untuk memerangi umat Islam sehingga umat islam mengikuti mereka seperti disebutkan oleh allah dalam al qur’an surah al baqarah ayat 120: “ orang – orang yahudi dan nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah petunjuk allah itulah petunjuk yang benar’. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemaun mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka allah tidak lagi menjadi penolong dan pelindung bagimu”.
Untuk mencapai obsesinya maka segala cara telah dilakukan, yahudi banyak dikenal mendalangi berbagai gerakan rahasia. Mereka juga berada di balik banyak mala petaka sepanjang lintasan sejarah. Tragedi 11 september, juga diindikasikan sebagai konspirasi yahudi untuk menyudutkan Islam, sehingga ada pembenaran bagi Israel untuk menyerang rakyat palestina dengan dalih teroris. 4000 pegawai yahudi yang bekerja di gedung WTC tidak bekerja pada saat terjadinya tragedi, bahkan sebelumnya pihak Yahudi telah membeli gedung tersebut untuk mendapatkan keuntungan dari asuransi yang diperolehnya, canggihnya cara dan teknologi yang digunakan untuk menghantaam gedung WTC, tidak mustahil dilakukan oleh Yahudi. Islam tidak mempunyai sejarah menyerang masyarakat sipil yang tidak bersalah bahkan muslim sebagai khalifah perlu memelihara dan membangun alam ini agar tidak terjadi kerusakan di bumi.
Sejarah Yahudi penuh dengan kejahatan seperti perbudakan panjang, penindasan keji, kesombongan, kebangsaan ekstrim, fanatisme buta terhadap keturunan, rakus terhadap materi, sistem ekonomi ribawi dan tingkah laku jahat lainnya seperti penjilat, licik, kejam, munafik, niat busuk, keras kepala, merampas Benyamin Franklin mantan presiden Amerika Serikat menyatakan bahwa dimanapun bangsa Yahudi tinggal, niscaya terjadi kehancuran moral dan mental, serta aktifitas perdagangan yang berjalan dengan jalan tercela.
Tentang bangsa yahudi, nabi Isa as berkata “wahai anak cucu ular (yahudi) bagaimana kalian dapat berbicara tentang kebaikan, sedangkan kalian adalah sejahat-jahatnya manusia”. Begitu juga nabi musa as berkata “ aku tahu kalian suka membangkang dan hati kalian keras bagaikan batu”. Sesungguhnya setelah kematianku kalian akan membuat kerusakan dan menyimpan dari jalan yang aku wasiatkan. Kalian akan ditimpa malapetaka diakhir zaman nanti. Al Qur’an surat Al A’raf: 167 menyatakan “ Dan ingatlah ketika rabbmu memberithukan bahwa sesungguhnya dia akan mengirim kepada mereka (orang-orang yahudi) sampai har kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang seburuk-buruknya.sesungguhnya dia maha pengampun lagi maha penyayang”.
Tingkah laku yang digambarkan diatas adalah tingkah laku syaithan. Mereka berencana secara sistematis melakukan kejahatan dalam kordinasi suatu komunitas, bangsa, dan badan. Yahudi adalah hizbus syithan yang ingin menguasai dunia. Beberapa cara yang dilakukannya seperti melalui militer, Politik, Ekonomi dan Sosial Budaya. Serangan militer akan memakan korban fisik dan kecaman dunia seperti yang telah dilakukan oleh Isreal terhadap Palestina. Juga tindakan Amerika Serikat yang menyerang negara-negara islam juga hasil dari lobi-lobi Yahudi yang kuat di Amerika Serikat. Politik luar negeri atau dunia juga dikuasai oleh Yahudi dengan menggunakan tangan amerika serikat atau badan-badan dunia lainnya seperti PBB. Bagi bangsa Yahudi semua cara dilakukannya, namun cara yang efektif untuk menaklukkan dunia dan agar mereka tunduk mengikutinya adalah dengan cara ekonomi. Sejarah juga menunjukkan bahwa Yahudi mengalahkan orang lain dengan kekuatan ekonomi yaitu dengan sistem bunga Bank dan penguasaan aset melalui praktek dagang yang tidak adil dan jujur.
2. Yahudi penguasa Amerika Serikat
Yahudi menguasai dunia dengan cara menimbulkan kekacauan, menyebarkan isu negatif dan kerusakan moral, teror pemikiran dan merusak opini menyebarkan kerusakan di masyarakat, menciptakan resesi ekonomi dan melenyapkan agama-agama.untuk menguasai dunia, yahudi berhasil menguasai Amerika Serikat dari segi ekonomi sehingga kebijakan-kebijakan Amerika dikendalikan oleh Yahudi, tidak saja kebijakan dalam negeri tapi juga kebijakan luar negeri, tidak saja dari segi ekonomi tetapi juga dalam segi politk. Kaum yahudi memilik lembaga keuangan besar dunia seperti pemegang saham The Federal Reserve (Bank sentral AS), Rothchlids Bank of London, Rothchlids Bank of Berlin, Israel Moses seif Bank of Italy, Warburg Bank of Hamburg, Lazard Brothers of Paris, Lehman Brothers of New York, Kuhn and Loeb Bank of New York, Chase Manhattan Bank of New York, dan Goldman Sachs of New York (Gary Kah, 1991)
Amerika Serikat walaupun dikenal sebagai negara maju dan super power, tetapi kenyataanya dikendalikan oleh Yahudi. Melalui penguasaan Ekonomi, para pelobi Yahudi menjadi afektif menyetir elit politik dan elit kekuasaan di Amerika Serikat.bukti dari keberhasilan lobi yahudi adalah tidak sedikitpun Amerika Serikat berani keras terhadap Israel dan nsemua kebijakan pemerintahan AS, dalam hal apapun selalu mengutamakan yahudi. Oleh karena itu, faktanya para pelaku Ekonomi AS tidak lebih dari sekedar ‘kacung’Yahudi. Mereka Kita dapat menyimpulkan bahwa Yahudilah yang sebenarnya pemilik sejati ekonomi AS. Yahudiejak 1664 sampai sekarang menjadikan New York sebagai tujuan migrasi utama. Mereka juga menguaai sebagian besar lembaga keuangan yang bermarkas di New York. Bagi kaum Yahudi, New York adalah mesin uang bagi tumbuh kembangnya gerakan Zionisme di dunia.
Yahudi menguasai dunia melalui media cetak, media elektronik. Media kaca dan media komunikasi lainnya. Pelaku utama di Pers dan penerbitan di AS adalah kaum Yahudi. Kita dapat melihat siaran CNN dan hampir semua media Barat menyudutkan Islam sebagai pelaku Teroris, padahal tidak ada alasan u ntuk mengaitkan 11 September itu dengan Islam. Kaum Yahudi memiliki The New York Times, yaitu keluaraga Suzberger sebagai seorang pemodal kuat, disamping itu, Suzberger juga menguasai 336 perusahaan surat kabar lainnya dan 12 majalah, termasuk Mc Call’s dan Family Circle. Majalah Time dipimpin oleh Steven J. Ross, juga penerbit buku ukuran raksasa, yaitu Random House, Simon & Schuter, dan Time Inc. Book. Co. Juga dimiliki oleh pemodal Yahudi.
Yahudi di Amerika Serikat juga menguasai penerbitan seperti pimpinan Simon & Schuter adalah Richard Snyder dan kaetuanya Jeremi kaplan. Western Publishing, penerbit buku anak-anak, dengan pangsa pasar buku untuk anak di dunia pemiliknya adalah Richard Bestein, begitu juga Walt Disney Company, yang merupakan konglomerat media terbesar, juga dipimpin oleh seorang Yahudi, yaitu Michael Eisner

Selasa, 14 Desember 2010

Methodologies in Foreign Language Teaching a brief historical overview


"Any given method is only as effective as its implementation."

  1. Grammar-Translation Method (1890s-1930s): Around the turn-of-the-century, language students often translated cumbersome volumes from Classical Greek or Latin into English vía this approach. It consisted mainly of exhaustive use of dictionaries, explanations of grammatical rules (in English), some sample sentences, and exercise drills to practice the new structures. Little opportunity for real second-language acquisition existed then.
  2. Cognitive Approach (1940s-1950s): This approach introduced the four principle language skills for the first time: listening, speaking, reading, and writing. Oral communicative competence became the focus. Comprehensible auditory input became important and speaking in the target language began to occur. Learning about the language was overemphasized.
  3. Audio-Lingüal Method (1950s-1960s): With the advent and popularity of audio tapes, this approach ushered in the first recordings wherein the language learner could actually hear and mimic native speakers on reel-to-reel audio tapes, often used with earphones in a language lab setting. Lessons often began with a sample dialogue to be recited and memorized. This was followed up with substitution pattern and saturation drills in which the grammatical structure previously introduced was reinforced, with emphasis given to rapid fire student response. Repetition, substitution, transformation, and translation became the order of the day. This method was strongly influenced by B.F. Skinner's behaviorist view toward learning which favored habit-forming drill techniques. Unfortunately, most students couldn’t transfer these dialogues into their own real-life experiences.
  4. The Direct Method (1970s): This method presented discussion in the target language as the major priority. Reference to English equivalents became discouraged. Grammar learning became inductive in nature without overt explanations given the pupil. Teacher/student interaction became fuller, guessing of context or content, completing fill-ins, and doing “cloze” exercises were the order of the day. Accuracy in pronunciation and oral expression became vital. Examples to be followed became the main intention.
  5. The Natural/Communicative Approach (1960s-2000s): Originally developed by Tracy Terrell and Stephen Krashen, this acquisition-focused approach sees communicative competence progressing through three stages: (a) aural comprehension, (b) early speech production, and (c) speech activities, all fostering "natural" language acquisition, much as a child would learn his/her native tongue. Following an initial "silent period", comprehension should precede production in speech, as the latter should be allowed to emerge in natural stages or progressions. Lowering of the Affective Filter is of paramount importance. Only the target language is used in class now, introducing the "total immersion" concept for the very first time, with auditory input for the student becoming paramount. Errors in speech are not corrected aloud. Now enters the era of glossy textbooks, replete with cultural vignettes, glossaries, vocabulary lists, and glazed photographs. A deliberate, conscious approach to the study of grammar is considered to have only modest value in the language learning process. Pairing off of students into small groups to practice newly acquired structures becomes the major focus. Visualization activities that often times make use of a picture file, slide presentations, word games, dialogues, contests, recreational activities, empirical utterances, and realia provide situations with problem-solving tasks which might include the use of charts, maps, graphs, and advertisements, all to be performed on the spot in class. Now the classroom becomes more student-centered with the teacher allowing for students to output the language more often on their own. Formal sequencing of grammatical concepts is kept to a minimum.